puisi makassar tentang keindahan
Puisitentang keindahan pantai adalah kata-kata indah yang ditulis semata untuk menjelaskan keindahan pantai yang eksotis. Sangat banyak contoh puisi tentang alam Indonesia baik itu pegunungan pantai desa dan lain sebagainya. Banyak sekali puisi tentangnya. Pastinya puisi keindahan alam diatas sangat bagus ya. Hutan hijau luas terhampar.
Cahayamakassar bersinar Ke segala penjuru anging Mammiri Aku di sini di Bumi mangkasara Kunikmati hembusan angin yang begitu syahdu Seakan menenteng ku ke alam nirwana Membangunkanku dari lamunan Yang entah menjalar kemana Aku di sini di Bumi mangkasara Sepetak kota Besar tetapi sejatinya terhampar luas
adakeindahan untuk dipandang untuk setiap butir pasir kerucut pinus tentukan cetak sempurna payung melindungi tanah ada keindahan untuk dipandang terikat setetes ke laut riak memantulkan cahaya emas tebing begitu terjal dalam kerumitannya ada keindahan untuk dipandang setiap waktu gurita tinggal jauh di dalam dingin ikan terbang menyelam ke langit
PuisiTentang Alam Senja, Keindahan Yang Tidak Terganti Lukaku Diusap Sang Bulan Potongan Indahnya Surga Nusantara Awan Kemana Perginya Alamku Yang Lestari Pantai Di Atas Bentangan Langit Itu Keindahan Alamku, Alam Indonesia Inilah Tanah Airku Desaku Yang Permai Rembulan Dan Matahari Alam, Itulah Namaku Indonesiaku, Tanah Airku
KEINDAHANSAWAH Padi-padi tumbuh dengan subur Serentak memancarkan hijau yang indah Angin bertiup sepoi-sepoi Begiu indah pemandangan sawah Para petani membawa cangkul Mereka mulai menanam padi Banyak burung berkicau riang Menyambut indahnya pemandangan sawah Ya Allah sungguh indah ciptaanMU Kau ciptakan surga dunia Karya : ISNI FITRIYANI (VII B)
Site De Rencontre Pour Handicapé Moteur. Ada berbagai tema yang dapat kamu buat ketika hendak merangkai puisi, salah satunya tentang keindahan alam. Semisal kamu belum punya ide, simak saja puisi alam yang ditulis oleh para penyair Indonesia ini. Setelah membacanya, siapa tahu kamu bisa langsung mendapatkan banyak kamu membayangkan, bagaimana jadinya jika manusia di bumi ini mengabaikan lingkungannya? Mungkin yang terjadi adalah kerusakan dan bencana alam yang tersebar di mana-mana. Untuk itu, cobalah resapi puisi-puisi tentang alam ini agar kamu dapat mensyukuri membaca dan meresapinya, siapa tahu kamu jadi terinspirasi untuk merangkai sajak sendiri. Kamu bisa membuat puisi tentang keindahan alam pedesaan, pantai, pegunungan, dan yang kamu rangkai itu siapa tahu juga bisa mendorongmu untuk melakukan aksi nyata. Misalnya adalah menggunakan produk daur ulang, menghemat listrik dan air, menanam pohon, dan tak sabar ingin mengetahui kumpulan puisi tentang alam yang bisa kamu jumpai di sini? Tak perlu berlama-lama, simak penjelasan lengkapnya di bawah ini! Semoga saja sajak tersebut semakin membuat hatimu tergerak untuk mencintai alam. 1. Biru Mendebarkan Horizon, horizon setelah itu, tak ada hal lain Horizon di langit dan horizon sejauh jangkau pandang Muara menyempit, delta mengerut Hutan lindap, daratan kelabu Lalu laut, laut seluas langit Datar, tetap, tak berhingga, biru mendebarkan. Andrea Hirata, Laut Pernahkah kamu membaca novel Laskar Pelangi? Kalau pernah, tentu sudah tak asing dengan Andrea Hirata. Penulis kelahiran Belitung ini lebih dikenal publik sebagai penulis novel. Bukunya berjudul Laskar Pelangi 2005 melahirkan trilogi novel Sang Pemimpi 2006, Edensor 2007, dan Maryamah Karpov 2008. Selain menulis buku, ternyata Andrea Hirata juga jago menulis sajak, lho. Misalnya adalah puisi alam di atas yang bercerita tentang keindahan laut biru serta horizon yang dapat dinikmati menjelang matahari terbenam. 2. Tanah Airku Adalah hujan dalam kabut yang ungu Turun sepanjang gunung dan bukit biru Ketika kota cahaya dan di mana bertemu Awan putih yang menghinggapi cemaraku Adalah kemarau dalam sengangar berdebu Turun sepanjang gunung dan bukit kelu Ketika kota tak bicara dan terpaku Gunung api dan hama di ladang-ladangku Lereng-lereng senja Pernah menyinar merah kesumba Padang hilalang dan bukit membatu Tanah airku Taufiq Ismail, Bukit Biru, Bukit Kelu Mungkin banyak di antara kamu yang sudah tak asing dengan Taufiq Ismail. Sastrawan kelahiran Bukittinggi ini telah melahirkan banyak karya yang mengantarkannya meraih sejumlah penghargaan. Misalnya adalah Anugerah Seni 1970, South East Asia Write Award 1994, dan doktor honoris causa dari Universitas Negeri Yogyakarta 2003. Lewat puisi berjudul Bukit Biru, Bukit Kelu di atas, Taufiq berusaha menggambarkan betapa indahnya panorama alam Indonesia. Perbukitan, pegunungan, dan ladang-ladang turut menghiasi tanah air kita. Baca juga Ragam Kisah Inspiratif Kehidupan Nyata yang Memotivasi 3. Kenangan Terjal in memoriam Sukabumi Daun-daun karet berserakan. Berserakan di hamparan waktu. Suara monyet di dahan-dahan. Suara kalong menghalau petang. Di pucuk-pucuk ilalang belalang berloncatan. Berloncatan di semak-semak rindu. Dan sebuah jalan melingkar-lingkar. Membelit kenangan terjal. Sesaat sebelum surya berlalu masih kudengar suara bedug bertalu-talu. Joko Pinurbo, Hutan Karet Tahukah kamu siapa Joko Pinurbo Jokpin? Dia merupakan penyair asal Indonesia yang sering memadukan humor, narasi, dan ironi dalam karya-karyanya. Sebagian puisi Jokpin pun tak hanya dikenal di Indonesia, tetapi juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Mandarin, dan Jerman. Salah satunya adalah sajak di atas yang menggambarkan keadaan hutan karet secara detail. Hutan hijau itu ditumbuhi semak dan ilalang serta dihuni oleh sejumlah kalong dan monyet. Di sanalah, sang penyair mengenang kembali tempat kelahirannya. 4. Lantunan Ombak Malam semakin pekat, namun bintang-bintang hadir membawa semburat Angin lembut membelai pipi, meyakinkan hati bisa membawa pada mimpi Lantunan ombak mendatangkan buih, mengingatkan akan pedih Dan tiba-tiba udara terasa dingin, tapi malaikat fajar menghadirkan hangat Di timur sana mentari pagi membulat Arintha Widya, Huft Arintha Widya merupakan penulis asal Pati, Jawa Tengah yang telah melahirkan sejumlah puisi dan cerpen. Dua cerpen Arintha yang telah diterbitkan sebuah majalah syiar di Solo adalah Berita Duka dan Luka Isya. Sedangkan puisi alam berjudul Huft tersebut ditulis ketika sang penyair berada di sebuah pantai. Di sana, dia menyaksikan malam pekat yang dihiasi bintang-bintang serta merasakan desiran angin yang membelai wajahnya. Deburan ombak dan hangatnya matahari terbit kian menambah keindahan suasana pantai. 5. Senja Sederhana Dipandang dari jendela, entah kenapa Senja menjadi begitu sederhana. Seperti sungai Yang memisahkan hutan dengan perkampungan Seperti tongkang-tongkang yang menembus Kabut yang remang, seperti kayu-kayu gelondongan Yang meluncur perlahan. Dipandang dari jendela Entah kenapa senja menjadi begitu sederhana Seperti ajal yang datang tanpa bicara. Acep Zamzam Noor, Tepian Ratu Meski tak sepopuler Chairil Anwar atau Rendra, kehadiran Acep Zamzam Noor dalam dunia perpuisian tak bisa diremehkan. Berkat karya-karyanya, pria kelahiran Tasikmalaya ini telah meraih sejumlah penghargaan, seperti South East Asian SEA Write Award 2005 dan Khatulistiwa Literary Award 2007. Tepian Ratu merupakan salah satu puisi alam dari Acep yang melukiskan tentang keindahan senja di sore hari yang begitu sederhana. Kesederhanaan itu nampak saat sang penyair memandangnya dari jendela yang diiringi sungai mengalir, hutan, perkampungan, perahu, kabut, dan remang. Baca juga Yuk, Baca Pantun Teka-Teki Ini dan Cobalah Tebak Maknanya! Kumpulan Puisi tentang Keindahan Alam sebagai Penyegar Pikiran 1. Kuntum Bunga Hei! Jangan kaupatahkan kuntum bunga itu ia sedang mengembang; bergoyang-goyang dahan-dahannya yang tua yang telah mengenal baik, kau tahu, segala perubahan cuaca. Bayangkan akar-akar yang sabar menyusup dan menjalar hujan pun turun setiap bumi hampir hangus terbakar dan mekarlah bunga itu pelahan-lahan dengan gaib, dari rahim Alam. Jangan; saksikan saja dengan teliti bagaimana Matahari memulasnya warna-warni, sambil diam-diam membunuhnya dengan hati-hati sekali dalam Kasih-sayang, dalam rindu-dendam alam; lihat ia pun terkulai pelahan-lahan dengan indah sekali, tanpa satu keluhan. Sapardi Djoko Damono, Sonet Hei! Jangan Kau Patahkan Penyair Sapardi Djoko Damono telah melahirkan banyak puisi yang begitu digandrungi orang-orang. Sebut saja Aku Ingin, Hujan di Bulan Juni, Pada Suatu Hari Nanti, dan Sonet Hei! Jangan Kau Patahkan yang dapat kamu baca pada kutipan di atas. Dalam sajak tersebut, Sapardi mencoba melukiskan keindahan sekuntum bunga dari mekar hingga layu. Sang penyair juga menggambarkan secara detail keadaan bagian-bagian bunga lainnya, seperti dahan dan akar. 2. Mega Merapi Purnama suri ini anakmu harus ke Merapi kembali Romo Sepuh di rasaku ada menanti Sang Resi pun menunggu kidung pagi orang-orang bertanya apa yang kucari selalu kujawab banyak nian yang kucari. Alam hijau raya seakan menyapa riang ria hening bening saat bersila di Candi Widayat bisikku, Romo terima doa ziarah senjaku. Mega Merapi putih berarak saat pagi debar itu selalu hadir menyapa mencari bayang Sang Resi di tabir pagi. Hari-hari terasa sempurna Merapi gaibnya mengusap jiwa Romo Sepuh di alam abadinya Sang Resi di alam gaibnya membiarkan kasih dan cinta wayang sakral telah digelar sesajian ditebar. Diah Hadaning, Tak Henti Mencari Sepertinya Gunung Merapi mendatangkan banyak inspirasi bagi para pujangga. Selain Sitor Situmorang, penyair perempuan Diah Hadaning pun menyebut-nyebut gunung yang berada di tengah-tengah Pulau Jawa ini dalam sajaknya yang berjudul Tak Henti Mencari di atas. Puisi tentang keindahan alam itu bercerita tentang seseorang yang sedang melakukan sebuah perjalanan ke Gunung Merapi. Selain untuk berziarah, melihat ritual, dan menikmati keindahan alam, di sana dia juga melakukan pencarian-pencarian yang selama ini mengusik hatinya. Baca juga Yuk, Baca Pantun Nasehat dan Maknanya untuk Kehidupanmu di Sini! 3. Lebih Dariku Menghadapi angin, Menggantung di udara. Di tepi barat pantai ini, Sekelompok burung merasakan apa itu merdeka. Terbang ke sana dan kemari, Mendesak diri melawan yang tidak terlihat. Terbang, dan tetap kembali… Ke tepi pantai ini, tempat mereka merasa diterima. Sebuah perahu kecil yang juga terlihat, Kepalanya mengarah padaku… Serta merta, Dan aku tahu itu juga akan menghilang. Sebuah titik yang tertelan cakrawala, Mereka menyentuh lebih banyak isi peta. Sebuah titik yang tertelan cakrawala, Mereka merasakan lebih banyak isi dunia. Lebih dariku… Arief Munandar, Burung dan Para Perahu Kecil Puisi berjudul Burung dan Para Perahu Kecil dari penyair Arief Munandar di atas melukiskan tentang keindahan alam pantai. Angin lembut, sekelompok burung melintas, perahu kecil, dan cakrawala yang berlayar turut menghiasi tempat itu. Burung-burung yang terbang di angkasa yang dibahas dalam puisi itu seolah mengajarkanmu apa arti kebebasan. Sedangkan cakrawala yang luas seperti mengingatkan agar tak tinggi hati karena ada yang lebih tahu isi dunia dibanding dirimu. 4. Gerak dan Isak! diah hadaning Di tanah pilih ini tumbuhlah beringin putih Sulur-sulurnya menjulur sebatas bahu Berdahan tangan kasih sayang Akar tunjangnya berserabut Rindang dedaunan berdesah lembut Aku lindungi kolam dan ikan-ikan! Aku pun tumbuh Diasuh angin gunung Merapi Dibasuh rindu dalam gelinjang waktu dalam tubuhku mengalir sungai-sungai Sangsai. Aku suka menggambar segitiga sama-sisi Kaki langit, segalanya tampak wingit Ibu bumi, sejuta gelisah yang membuncah Laut, riak dan ombak saling-desak di kediaman sajak Gerak dan isak! Dimas Arika Mihardja, Beringin Putih Nama Dimas Arika Mihardja DAM mulai dikenal publik setelah beberapa puisi, esai, dan juga novelnya terbit di berbagai media massa. Tahun 2002, novel DAM berjudul Catatan Harian Maya dimuat di harian Jambi Independent secara bersambung. Sedangkan puisi di atas merupakan karya DAM yang berusaha melukiskan bentuk fisik dan kehidupan sebuah pohon beringin putih. Dalam bait-baitnya, sang penyair menggambarkan pohon seolah dapat berlaku bak manusia, seperti berdesah lembut, dibasuh rindu, bergerak, dan terisak. 5. Surga Adalah Hutan yang mencoba memugar malam dari reruntuhan siang mencoba juga menahan bulan, bulatan bulai pada fajar terbengkalai. Pinus yang memasang rambut Suri Nilam pada sisa luka dataran menutup juga kesedihan pada kerumunan kering karang. Musim Gugur adalah Karpet Parsi di Rimba Subur Lexington Pagi. Sorga adalah seutas waktu, sebelum warna dilulur layu. Goenawan Mohamad, Di Negeri Winnetou Goenawan Soesatyo Mohamad merupakan salah satu sastrawan ternama Indonesia sekaligus pendiri majalah Tempo. Laki-laki yang lahir pada 29 Juli 1941 ini mulai menulis sejak usia 17 tahun dan telah menghasilkan banyak karya, antara lain Parikesit 1969, Interlude 1971, dan Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang 1972. Di masa mudanya, Goenawan lebih dikenal sebagai seorang penyair karena lebih banyak menulis sajak. Salah satunya adalah puisi alam berjudul Di Negeri Winnetou di atas yang melukiskan keindahan musim gugur pagi hari di Lexington, Amerika Serikat. Baca juga Kumpulan Contoh Puisi tentang Pahlawan dari Para Sastrawan Ternama Kumpulan Puisi tentang Keindahan Alam Indonesia 1. Mengalirlah Terus Sungai kecil, sungai kecil! Di manakah engkau telah kulihat? Antara Cirebon dan Purwakarta atau hanya dalam mimpi? Di atasmu batu-batu kecil sekeras rinduku dan di tepimu daun-daun bergoyang menaburkan sesuatu yang kuminta dalam doaku. Sungai kecil, sungai kecil! Terangkanlah kepadaku, di manakah negeri asalmu? Di atasmu akan kupasang jembatan bambu agar para petani mudah melintasimu dan akan kubersihkan lubukmu agar para perampok yang mandi merasakan juga sejuk airmu. Sungai kecil, sungai kecil! Mengalirlah terus ke rongga jantungku dan kalau kau payah, istirahatlah ke dalam tidurku! Kau yang jelita kutembangkan buat kekasihku. D. Zawawi Imron, Sungai Kecil Zawawi Imron merupakan budayawan sekaligus penyair asal Madura yang telah melahirkan banyak puisi. Berkat karya-karyanya, pria kelahiran 1 Januari 1945 ini berhasil meraih penghargaan The Write Award pada tahun 2011. Sesuai judulnya, puisi alam di atas adalah salah satu karya Zawawi yang menceritakan tentang keindahan sungai kecil yang membentang antara Cirebon dan Purwakarta. Penyair menulis akan memasang jembatan di atasnya untuk mempermudah para petani saat lewat. Ia juga akan membersihkannya agar airnya menjadi sejuk saat dipakai untuk mandi. 2. Potret Tanah Air Apabila kita bertiarap di bukit yang damaiKita mengarah lembahDengan gelagah dan semak-semak berbungaDi langit yang bersih terpancanglah matahariSepanjang tahun selalu bercayaMaka angin lembahBertiup dengan merdekaSuara yang gaib memanggilkuTangan yang gaib memanggilkuSebatang sungai yang putih sebagai pitaMengalir jauh ke tengahSelalu bernyanyi bagai sediakalaSedang jalan kereta api menjalar di sebelahnyaKeretanya lewat dengan asap yang jenakaMencorengkan warna kelabu di udaraDisapu angin kemarauDalam permainan dan semangat remajaPermainan dan derita bangsakuLebih jauh lagiSetelah warna hijau dan putih iniBumi berwarna kuning kerna padi telah menuaDan di bawah matahari jerami berwarna bagai tembagaOrang-orang yang coklat bergerak di tanah coklatMereka bekerja dan mencumbu tanahnyaMaka sambil menghadap kesuburanRumah-rumah di kiri berjongkok dengan tentramTempat berpagut jiwa bangsakuBagai titik-titik beragam seratus warnaberterbanganlah burung-burung dan kupu-kupuMalaikat kehidupan dari bumiDan sebuah jalan yang kelabudari kanan menuju ke cakrawalamenuju kotaMobil yang kecil dan birulewat di atasnyaSuara yang gaib memanggilkuTangan yang gaib melambaikuTangan bangsa ini harus dikepalkanBukit dan lembah ini harus bermaknaHarus diberi maknaDi kali perempuan telanjang dan mencucimereka suka bernyanyi tentang harapan yang sederhanadan tentang kerja lelakinyaSedang di tepi sungai,rumpun bambu bergoyanganVictor yang baik,percik darah yang pertamadi bumi ini tumpahnya Rendra, A Landscape for Dear Victor Siapa yang tak kenal dengan Rendra? Laki-laki yang bernama lengkap Willibrordus Surendra Broto Rendra ini adalah seorang sastrawan, cerpenis, penulis skenario drama, dan penyair. Tahun 1967, laki-laki yang dijuluki Burung Merak itu mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta. Dari sinilah lahir seniman-seniman berbakat seperti Sitok Srengenge, Adi Kurdi, dan Radhar Panca Dahana. A Landscape for Dear Victor merupakan sajak karya Rendra berisi tentang kesuburan alam Indonesia yang digambarkan melalui beberapa kata. Misalnya adalah semak-semak berbunga, padi telah menua, dan rumpun bambu bergoyangan. Untuk itu, hendaknya kita bersyukur dan senantiasa menjaga ibu pertiwi agar tak rusak atau dikuasai bangsa asing. Baca juga Kumpulan Puisi Cinta Romantis untuk Pacar Tersayang yang Memiliki Makna Mendalam 3. Bagian Firdaus Berhenti, kasih waktu pada sederet rasa Mereka yang bilang ada Tuhan atau mereka yang menyangkali Dia sama-sama mengenal arti warna di sini Ungu kuning hitam paracanthus hepatus Kuning putih hitam lo volpinus Hitam bondol putih ostracion lentiginosum bukan hanya 12 warna di sini di karang Bunaken. Dalam dunianya, setiap hati adalah raja menyertai badan dalam pikiran Tapi siapa tidak percaya di sini adalah bagian Firdaus yang tersisa Karang bukan hanya batu tapi makhluk hidup dari jejak genesis dalam satu sabda. Semua orang datang ke sini di karang Bunaken Bagaimana aku mencari nama untuk arti laut Aku terlalu kagum pada kebesaran Ilahi. Remy Sylado, Bunaken Tahukah kamu siapa Yapi Panda Abdiel Tambayong atau yang akrab disapa Remy Sylado? Pria yang lahir di Makasar pada tanggal 12 Juli 1945 ini merupakan sastrawan Indonesia yang telah menghasilkan banyak karya berupa cerpen, novel, drama, esai, kolom, dan puisi. Salah satunya adalah puisi alam di atas yang menggambarkan tentang keindahan karang di Taman Nasional Bunaken, Sulawesi Utara. Sang penyair mencoba menyampaikan rasa kagumnya pada warna-warni karang yang dia sebut sebagai bagian dari surga Firdaus dan kebesaran Tuhan. 4. Nyaring Menderu Kutahu sudah, sebelum pergi dari sini Aku akan rindu balik pada semua ini Sunyi yang kutakuti sekarang Rona lereng gunung menguap Pada cerita cemara berdesir Sedu cinta penyair Rindu pada elusan mimpi Pencipta Candi Prambanan Mengalun kemari dari dataran Dan sekarang aku mengerti Juga di sunyi gunung Jauh dari ombak menggulung Dalam hati manusia sendiri Ombak lautan rindu Semakin nyaring menderu Sitor Situmorang, Lereng Merapi Para penyuka karya lawas mungkin sudah familier dengan nama Sitor Situmorang. Laki-laki yang bernama asli Raja Usu itu lahir di Tapanuli Utara, 2 Oktober 1923. Sitor telah menghasilkan banyak karya, seperti cerpen, karya terjemahan, esai, naskah drama, dan film. Misalnya adalah puisi tentang keindahan alam di atas yang berusaha melukiskan kegelisahan sang penyair sebelum meninggalkan lereng Gunung Merapi. Dia pun mungkin akan merindukan tempat sunyi yang jauh dari ombak lautan itu. 5. Air Terjun Di sinilah kau bisa belajar menguji Seberapa jauh kakimu melangkah pergi sebab tangga demi tangga siap menelan semangat dan asa. Maka dibangunlah pondok persinggahan bagi laki-laki yang dikunjungi kelelahan sebab perjalanan berliku lagi menurun mahir membujuk peluh menjadi rimbun. Ini bukan tentang air terjun berjumlah seribu melainkan tangga yang hampir sulit terhitung itu setiap kali para remaja menghitungnya kerap berselisih dengan kawannya. Barangkali adanya monyet-monyet nakal menaburkan konsentrasi penghapal membuat ingatan sedikit bebal perhatian sedikit tertinggal Tapi jangan sesekali risaukan hasil perhitungan sebab awal mula tujuan adalah Grojogan bermandi air dingin sambil melupakan kegundahan dan kejenuhan Biarkan perih luka masa lalumu terbawa guyuran mata air 81 meter tingginya. Sebab akhir petualangan akan kau jumpai plang memanggul ucapan selamat dan doa saat pulang telah berhasil menaklukan anak tangga dari awal datang sampai meninggalkannya. Lasinta Ari Nendra Wibawa, Grojogan Sewu Lasinta Ari Nendra Wibawa adalah penulis fiksi maupun nonfiksi asal Sukoharjo, Jawa Tengah. Pria kelahiran 28 Januari 1988 ini telah menghasilkan banyak karya tulis yang dimuat oleh puluhan media lokal mupun nasional. Sebut saja Media Indonesia, Jawa Pos, Kompas, dan masih banyak lagi. Seperti judulnya, puisi tentang alam dari Lasinta tersebut berusaha mendeskripiskan keindahan Grojogan Sewu yang terletak di Tawangmangu, Jawa Tengah. Untuk dapat menikmati keindahan air terjun setinggi 81 meter itu, kamu harus menaiki anak tangga. Saat menaikinya, mungkin sesekali kamu akan dikejutkan oleh kemunculan monyet-monyet nakal. Baca juga Yuk, Baca Kumpulan Puisi Roman Picisan yang Bikin Baper di Sini! Manakah Puisi tentang Keindahan Alam yang Paling Mengesankan Hatimu? Demikian ulasan kumpulan puisi tentang keindahan alam yang dapat kamu simak di KepoGaul. Kira-kira, manakah sajak yang paling membekas di hatimu? Semoga saja bait-bait itu bisa membantu menyegarkan pikiranmu, ya! Jadikan pula puisi tentang keindahan alam sebagai bahan renungan agar kita tetap mensyukuri nikmat yang diberikan-Nya. Mari bersama-sama jaga dan lestarikan alam kita agar tidak rusak. Salam lestari! PenulisIis ErnawatiIis Ernawati adalah kontributor di Praktis Media alumni UIN Sunan Kalijaga jurusan Komunikasi. EditorElsa DewintaElsa Dewinta adalah seorang editor di Praktis Media. Wanita yang memiliki passion di dunia content writing ini merupakan lulusan Universitas Sebelas Maret jurusan Public Relations. Baginya, menulis bukanlah bakat, seseorang bisa menjadi penulis hebat karena terbiasa dan mau belajar.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Pada cekungan karang, Kerapu sedang menanti, persis di batas tampak dan tidak tampakarus tubir, melompatlah ikan, yang dikirim arus utara dalam pusaran semalamSepagi ini telah masuk ke dalam bubuKau mungkin tidak percaya kakekku adalah karang yang menghimpun bayi KerapuPuisi tersebut bagian dari buku puisi berjudul "Karang Menghimpun Bayi Kerapu" yang berisi 100 puisi karya Ibrahim Gibra - nama pena dari Prof Gufran Ali Ibrahim. Puisi itu sejatinya, cara memahami pengarang tentang keindahan alam Maluku Utara di masa lalu, saat ini dan apa yang diimajinasikan nanti. Imajinasi itu bisa juga tentang kota yang punya tol, resto, kereta Argo Parahiyangan, tiang tiang atau tentang cinta yang memeluk rindu. Gaya menulis puisi tersebut menurut pandangan Sutarjo Adisusilo, disebut sebagai filsafat sejarah spekulatif yang menuliskan semua tentang masa lalu, sejarah, yang pernah terjadi, direkam dalam memori lalu dihubungkan dengan hidup saat ini. Ujungnya adalah tentang kemungkinan yang akan terjadi nanti. Masa lalu diwujudkan lewat magori. Ini sumber hidup yang berasal dari Ibu dan keluarga bahkan tentang laut, karang, ikan dan pasir. Inilah magori kita anak-anak di Maluku Utara yang lahir dan besar bersama laut atau juga bersama hutan yang isinya pohon sagu, kenari, kelapa, cengkih dan serba pertama. Ada realisme bertutur di situ. Ibrahim Gibra menulis romantisme yang kini mulai hilang tergusur modernitas dalam bait-bait puisi yang tajam. Sebuah historical responsibility yang lepas. Di mana kita hari ini? Di kota yang bising penuh tipu muslihat. Kita jadi lupa dengan magori. Lupa bagaimana caranya membuat bubu, lalu merayu ikan dengan daun Tagalolo Landmark Ternate merupakan daya tarik tersendiri dari Kota Ternate memiliki kesan bahari yang sangat kental dan menjadi ciri khas Pulau Ternate Wikimedia Commons Buku berjudul "Karang Menghimpun Bayi Kerapu" ini dibedah langsung Hasan Aspahani, pemenang Anugerah Hari Puisi Indonesia 2016. Menurutnya, Imaji laut yang ada dalam karya ini berbeda dengan imaji laut yang ada pada karya-karya lain. Laut dalam karya Ibrahim Gibra ini sangat personal, kesannnya, dan bedah buku ini sendiri dibuat oleh Kantor Bahasa Maluku Utara bersama Fakultas Ilmu Budaya FIB Universitas Khairun Unkhair Ternate. Hasan, yang juga penerima Anugerah Sastra Badan Bahasa 2018 itu mengatakan puisi-puisi yang berada di dalam buku sebagian besar bertema laut dan masa lalu seorang Ibrahim Gibra, bahkan disebut Hasan sebagai penyair yang menyamar menjadi profesor. Ia sangat metaforis menulis masa kecilnya. "Puisi-puisi ini membuat saya berhak menikmatinya dengan sepersonal mungkin. Dan setiap orang saat menemukan puisi-puisi ini mereka juga berhak menikmatinya," ucap Bang Acang, sapaan akrab yang disematkan Ibrahim kepadanya. Sebagai seorang penulis puisi beliau juga mempersembahkan puisi nya untuk Ibrahim Manusia dan Air Gurakauntuk Ibrahim Gibra 1 2 Lihat Sosbud Selengkapnya
Home Kabar Seni dan Budaya Kearifan Lokal Puisi Makassar Dalam Pentas Opera Bunga Eja ... Kabar Seni dan Budaya Terbit 1739 - Sebuah karya puisi Makassar yang dibuat oleh seorang penulis warga Takalar Hanif Rangga dijadikan dalam bentuk seni panggung pentasan musik dan sandiwara atau disebut Opera. Puisi Makassar yang berjudul "Bunga Eja" dipentaskan melalui Opera yang menceritakan tentang kisah pembelajaran moral dan etika seseorang yang dimainkan oleh pemuda-pemudi Kabupaten Takalar dalam Sanggar Seni Ataraxia Kabupaten Takalar dengan judul Opera Bunga Eja. Opera Bunga Eja sendiri disutradarai oleh Bang Yus Amin Db. Puisi Bunga Eja menceritakan dimana sosok anak perempuan yang dibesarkan dari sentuhan-sentuhan Kearifan Lokal mulai dari sejak lahir hingga Bunga Eja tumbuh menjadi sosok perempuan yang menjaga dirinya dalam Kerangket adat. Didalam Puisi, Bunga Eja adalah sosok wanita dengan nama Sari Bulan Daeng Maccora secara Deskripsi makna Puisi dari Bunga Eja disematkan segala wujud keindahan langit dan bumi, meski mandiri dan dijunjung tinggi, perangainya yang serupa ombak samudra, kecerdasannya yang seluas Bang Yus sapaan akrabnya, Puisi Bunga Eja merupakan karya yang sangat filosofis, penuh makna. Sastra yang mengandung unsur semantik yang luar biasa sehingga dirinya tertarik untuk membuatnya dalam bentuk pertunjukan. "Kita berharap Opera Bunga Eja bisa memberikan pembelajaran moral atau etika bagaimana seorang anak mampu belajar dari kisah cerita ini. Apalagi untuk kaum milenial saat ini," ungkap Bang Yus saat ditemui Jumat 25/9.Dia menilai, melalui pentas ini dapat mengedukasi bahwa Kearifan Lokal dapat mempengaruhi perkembangan psikologis dan karakter seorang anak. "Dan saya juga ingin menyampaikan kepada semua orang bahwa tidak semua kearifan lokal itu dinilai negatif. Tapi mari kita mencoba mengedukasi ulang bahwa kearifan lokal sangatlah berpengaruh terhadap perkembangan psikologis dan karakter seorang anak," ungkapnya. Pentas Kesenian Opera Bunga Eja akan digelar pada Sabtu 3 Oktober 2020 mendatang yang dimulai pukul hingga selesai. Pentas ini akan digelar di Grand Kalampa Hotel pusat kota Takalar, tepatnya di Jalan Poros Takalar-Jeneponto. Berbagai pentas Kesenian tampil dalam acara tersebut, Seperti Tari Ganrang Bulo, Tari Bunga Eja, Perkusi dan Seni Bela diri Makassar yakni Manca dan Silat. Opera Bunga Eja akan dimainkan 10 pemuda dan pemudi Kabupaten Takalar. Ketua Sanggar Seni Ataraxia berharap apresiasi masyarakat Takalar khususnya sesama pekerja seni."Ini sebuah tantangan sekaligus pembelajaran bagi kami karena berani memulai pertunjukan Opera ini. Apa lagi mengangkat sebuah kearifan lokal. Kami berharap ini bisa diapresiasi oleh masyarakat Kabupaten Takalar khususnya sesama pekerja Seni," ungkapnya. Perlu diketahui, dalam Pentas Seni Opera Bunga Eja ini, panitia pelaksana turut mengundang Ketua DPRD Kabupaten Takalar Darwis Sijaya, Bupati Takalar H Syamsari Kitta, Dinas Kebudayaan Kabupaten Takalar termasuk penonton yang akan menyaksikan Opera Bunga Eja dengan harga tiket sebesar rupiah. Terakhir, Sebagai skenario dan sutradara Opera Bunga Eja Bang Yus berharap Pemerintah Kabupaten Takalar lebih memperhatikan pengembangan budaya Kearifan Lokal, Kesenian Daerah. "Semoga pemerintah bisa lagi lebih memperhatikan pengembangan budaya kearifan lokal dan kesenian daerah Kabupaten Takalar," pungkas Mahasiswa lulusan bahasa & sastra di Unismuh Makassar uji. Berikut kutipan Puisi Makassar yang berjudul "Bunga Eja" karya Hanif Rangga warga Takalar yang dipentaskan melalui Opera Bunga Eja. Ooh anakku, Saribulang daeng MacoraPilanngeri baji'mami, pidandang pappasangkuRigintingannuji antu maloloNa natujuko mata baule'Na nadongkokiko pangngaiPunna sallang toako na mannasi'mo tanrasula ri abannuNamminro kebo'mo uyuq nuTana tujuamako mata. Tana dingkokiamako pangngaiPunna tatappoko ia ana'Anjalling kalau' mako ri pa'rasangang anjayaRi bori' tau mata. Penulis Abdul Kadir Editor Herlin Sadid
Oleh Syaifuddin Gani SEBUAH kerja mengumpulkan, membaca, dan menyeleksi puisi para penyair generasi terbaru dekade pertama Abad ke-21 dari sebuah pulau yang kaya akan khazanah kebudayaannya, sungguh membahagiakan sekaligus menegangkan. Membahagiakan, karena kurang lebih seratus puisi yang dikirim, memperlihatkan capaian estetik, kekayaan tematik, pergulatan bahasa, kompleksitas lokalitas, dan sekaligus sebuah siratan bahwa pulau ini, tiada kunjung kehilangan regenerasi penyairnya. Kebahagiaan lainnya adalah ketika dihadapkan pada sebuah lanskap perpuisian yang sudah menyebar dan hampir merata ke setiap provinsi. Menegangkan, tiada lain, karena selain memilih dua belas penyair dari derasnya arus pertumbuhan kepenyairan di sini, juga memilih puisi-puisi terbaik yang mewakili setiap penyair. Ya, Sulawesi, sebuah pulau yang tiada henti berdenyut, melahirkan penyair. Hal ini dapat terjadi, tiada lain, karena selain kaya akan khazanah kelisanan, juga cemerlang dalam tradisi keberaksaraan. Suku Bugis, misalnya, mencapai puncak keberaksaraan dan kebudayaan, tidak diciptakan di masa kini semata, tetapi dibangun beberapa alaf silam, di masa nenek moyang, ketika naskah sureq I Lagaligo, mulai ditulis, beralih ke ranah aksara, yang kini dibaca di berbagai belahan dunia. Generasi Bugis-Makassar kini, “tinggal” memetik dan mengolah kembali buah kreativitas yang pohonnya ditanam oleh leluhurnya di masa silam. Tradisi penulisan serupa terjadi di khazanah kebudayaan Buton, Sulawesi Tenggara. Salah satu karya sastra yang cukup terkenal dari Buton adalah kabhanti, sebuah syair panjang, yang ditulis, salah satunya, oleh La Ode Idrus Kaimuddin, salah seorang sultan di Kesultanan Wolio, Buton. Kabhanti yang ditulis oleh Sultan ke-27 ini, berisi petuah keagamaan, akhlak, syariat, dan kearifan sebagai bagian dari siar Islam bagi masyarakat Wolio yang baru saja memeluk ajaran Sang Nabi, saat itu. Karena memiliki nilai yang dipadu dari lokalitas Buton dan profetik Islam, kabhanti pun menawarkan universalitas sehingga dibaca dan dikaji oleh penghayat ilmu pengetahuan dari beragam latar belakang. Puisi-puisi Sulawesi yang berada di haribaan pembaca saat ini, hadir dengan kekayaan dan kompleksitas adat-istiadat, sudut pandang, pergulatan sosiologis masyarakat Sulawesi, hadangan modernisme dan peliknya persoalan kekinian. Sartian Nuryamin, seorang penyair Sulawesi Tenggara yang bermukim di Kabupaten Kolaka, menyuguhkan puisi yang mewakili persoalan, kekayaan, dan kompleksitas sosial-budaya suku Tolaki. Puisi “Sabda Kalo” berhasil menjelaskan sebuah simbol adat berupa lingkaran rotan yang di tengahnya terdapat sirih dan pinang, sebagai tanda persatuan dan kerukunan suku Tolaki. Sartian, menguraikan secara maknawi adat itu yang berpijak pada bahasa puisi yang khas dan bernas, seraya mempersembahkannya secara filosofis ke haribaan pembaca. Penyair sadar bahwa ue atau rotan yang “pada mulanya tanah” adalah awal-mula manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi dalam laku “meninggikan adat dan membumikan petuah”. Puisi tersebut menjadi suatu pembuka pemahaman bagi dunia di luar budaya Tolaki bahwa setiap adanya perselisihan, pernikahan, perceraian, kematian, perang, dan musabab lainnya selalu “diakhiri” dengan rasa persaudaraan dan pertaubatan melalui kalosara dalam bahasa teeno sara mami, inilah persembahan adat kami’. Puisi ini juga sekaligus mengetengahkan sisi spritualitas dalam balutan lokalitas Tolaki bahwa “Tuhan, penguasa, rakyat” adalah satu jua adanya. Ketiganya “bertemu di ujung simpul” yakni simpul sang khaliq dan simpul sang hamba. Sampailah penyair pada pesan yang menggetarkan yaitu “tandan bergelar kafan pengingat waktu”. Belitan lingkaran rotan, sirih dan pinang, hanyalah ikhtiar manusiawi belaka yang pada akhirnya diperhadapkan pada ujung kehidupan, yakni kematian! Mitos menjadi lahan penciptaan yang menggoda penyair. Tradisi kalosara yang dibalut dengan nilai mitologis pada puisi Sartian di atas, La Ode Gusman Nasiru juga menjadikan mitos, khususnya cerita Putri Duyung, sebagai tema dan pesan. La Mbatambata adalah anak Putri Duyung atau Wandiundiu yang selalu menyusu di pinggir pantai, dalam kelisanan Buton, usai sang ibu diusir suami dan terkutuk jadi setengah ikan setengah manusia. Dalam sudut pandang penyair, La Mbatambata terus saja menjadi “kisah perih kekal dalam sunyi” dan “menari dalam resonansi waktu”. Akan tetapi, La Mbatambata bukanlah melulu soal mitos masa silam dari ranah Buton itu, tetapi di tangan penyair sekaligus menjadi Buton itu sendiri yang tengah bergelut dan berperang untuk keluar dari belitan mitos-mitos kebesaran masa silamnya yang melenakan untuk segera “bangkit dari kisah-kisah dan peristiwa” karena memang “terkutuklah segala masa lalu” itu. Secara tersirat, penyair ingin mengatakan bahwa tugas di kekinian lebih berat yaitu bekerja untuk kemaslahatan, keluar dari mitos. Akan tetapi, sang penyair sendiri tengah bergelut mencapai hal itu, selain mencipta puisi, juga harus berjuang agar La Mbatambata selain sebagai penanda lokal, juga menjadi tokoh universal. Gusman menyajikan puisinya dengan daya ungkap yang khas, segar, dan menggugah. Pulang ke haribaan kampung halaman yang dipenuhi sejarah dan kenangan, ditampilkan oleh puisi “Karena Aku Tak Pulang” karya Wa Ode Rizki Adiputri, penyair Kendari, lewat “kabar untuk laut yang menghitam” yang “sari-sari aspal lekat merambati lekuk gelombangnya”. Si aku lirik menegaskan kesetiaan sang gelombang melalui pertanyaan “pernahkah kau perhatikan betapa setia ia menjemputmu?” Keterpesonaan si aku lirik pada kampung halaman—yang sebagian besar adalah masa silam itu—karena ia dapat menjadi tumpahan rindu sebagai si anak hilang yang datang jauh di negeri orang. Melalui larik “siang ini, akumulasi cerita rindu tamat di Murhum, mengintipmu mengucap syukur penuh kaca, ah, lepaskanlah bersama kecewamu di situ”. Murhum, selain adalah nama salah seorang Sultan di Buton, juga sebagai simbol masa silam yang dibanggakan dan tak tergantikan. Romantisisme begitu kuat sehingga hampir tidak ada jalan kembali yang lain, selain ke masa silam itu. Hal tersebut rupanya disadari dengan baik oleh penyairnya. Ia mengeritik lewat bahasa simbolik yang cerdas, “jika kau sempat menyendiri, perhatikan bagaimana gemunung mencuatkan hijau, bagaimana sejarah menjelma cadas”. Sejarah, jika tidak dibaca ulang dengan berbagai sudut pandang, ia hanya menjadi pengganggu, cadas! Sehingga, “Wolio-Sorawolio atau Bungi-Betoambari” hanya mampu “kekal dalam jarak”. Wa Ode tengah berupaya “menjinakkan” bahasa sehingga pada sajaknya yang lain, ia mewakilkan rasa cinta si aku lirik melalui larik segar “garis tepi itu kukenal dari kedalaman obor matamu”. Wa Ode sadar bahwa pergulatan seorang penyair adalah perjuangan menemukan dan mencipta bahasa. Mariati Atkah, penyair asal Sulawesi Selatan, memotret ironi dan kenyataan pahit hidup nelayan. Dengan bahasa dan stilistika yang khas, ia menggambarkan “lelaki tua berjalan di atas laut mimpinya yang bertebing karang”. Laut dan karang sebagai latar fisik, dipadu dengan suasana batin sang nelayan dan masyarakat sekitar yang didayagunakan menjadi kekayaan bahasa puisi yang bernas dan kuat. Pola kehidupan masyarakat di Palajau, Kabupaten Barru dan segala kompleksitasnya merupakan sumber penciptaan. Dengan metafora yang dibangun dari pemilihan bahasa yang ketat, penyair mampu memotret ironi kehidupan nelayan yang “menetas dari ombak di telapak kakinya yang lisut”. Penyair mengatakan bahwa melimpahnya pendapatan yang diwakili “garam melimpah ruah” tidak mampu mengangkat kesejahteraan masyakarat, karena di sisi lain, harga barang pokok tetap tak terjangkau. Dalam keadaan ini, harapan pun “rubuh membiru” dan nasib alangkah asin, seasin garam. Suasana batin si aku lirik dan kemarau panjang yang melanda Butta kampung Turatea berpilin menjadi puisi menyentuh. Dengan pemanfaatan persamaan bunyi konsonan “r” di baris kedua dan ketiga pada bait pertama puisi “Ballo’ Tala”, pembaca dihadapkan pada ambiguitas dan multitafsir makna, antara kemarau hati si aku lirik dan musim panas “serupa api yang sanggup menghanguskan hati”. Dan dengan sentuhan ironi, penyair mampu meminjam aroma ballo’ talla, minuman khas dari buah lontar, yang ditawarkan si aku lirik pada kekasihnya. Namun, alih-alih menikmati rasa manis dan menghilangkan rasa haus “duniawi”, justru dengan getir “memaniskan luka-luka”. Sebuah metafora yang memikat. Jika beberapa puisi sebelumnya memanfaatkan tradisi dan kehidupan masyarakat lokal sebagai sumber penciptaan, Fitriawan Umar, secara intertekstual, meminjam puitika Al-Quran, Surah Al-Qariah, sebagai hipogram puisinya “Surah Kenangan”. Dengan cerdas, penyair muda kelahiran Pinrang, Sulawesi Selatan ini, “mengubah” larik-larik Surah “Hari Kiamat” menjadi larik-larik baru dan tentunya menawarkan makna baru lagi. Tentunya, ini bukan sekadar peminjaman cara pengungkapan, tetapi sebagai strategi literer, sebagai bagian dari alternatif/cara pengucapan. Disebutkan bahwa kenangan adalah “hari di mana semua luka-tawamu seperti laron yang beterbangan”. Bukan gunung lagi, tetapi “senyum-perihmu seperti bulu yang dihambur-hamburkan”. Bagi Fitriawan, kenangan dalam konteks puisinya, tidak lain adalah kiamat itu sendiri bagi “orang yang masa lalunya berfoya-tawa”. Karena tempat kembalinya adalah sunyi, yaitu “api kenangan yang penuh pedih”. Sunyi adalah metafora bagi neraka, tempat penyiksaan dalam bentuk kenangan yang “mengapi”. Apa yang ingin dikatakan oleh Fitriawan adalah perilaku duniawi yang hedonis, yang dipenuhi senyum-perih, luka-tawa, dan foya-tawa akan mendapat ganjaran setimpal, berupa sunyi yang berapi. Bukankah neraka adalah negeri “tersunyi” yang dipelihara lidah-lidah api? Fitriawan juga menulis puisi tentang percakapan orang-orangan di sawah. Puisi seperti ini lahir dari sebuah masyarakat agraris dan memiliki pekerjaan, salah satunya, sebagai pengolah sawah. Dan suku Bugis menjadi salah satu etnis yang dikenal sebagai pengolah sawah yang ulet. Penyair menyuguhkan percakapan liris antarorang-orangan itu, yang sebetulnya mewakili kegelisahan petani. “Apa kau masih diliputi ketabahan, sedang waktu melipat segala” adalah ungkapan yang bernada pesimis dari orang-orangan itu. Puisi ini memiliki kaitan tematik dengan puisi “Ballo’ Tala” karya Mariati Atkah yang melihat adanya pergantian musim, “malaikat petugas pergantian warna melunturkan yang hijau, mengukuhkan yang kuning”. Gilasan sang waktu semakin terasa mendera seiring pilihan pragmatis petani yang lain yang tidak setia kepada bumi, dan “sibuk berunding dengan pemilik proyek”. Selain karena iming-iming uang, himpitan kehidupan membuat petani yang lain lagi mengatakan “kita tak punya pilihan lain”. Di sini, sang penyair menangkap gejala roda dan mesin modernisme yang menggasak kehidupan agraris masyarakat. Sawah berganti “petak-petak rumah di sana”. M. Dirgantara, penyair muda asal Pinrang, Sulawesi Selatan, pada puisinya “Kuda-kuda” terasa kerumitan pintu masuk pemaknaannya. Ada kisah yang serupa cerita sufi dan menawarkan hikmah khas pencari jalan cinta dan kebenaran. Ada nada humor lewat larik “Baiklah. Kita berangkat sore hari. Jagal saja kudaku sebagai bekal’, kamu tertawa”. Dirgantara tengah bergulat antara meraih makna yang filosofis dan tawaran bahasa sebagai medium penyampainya. Kisah sufi terasa kuat ketika sang tokoh di dalam puisinya, “mengambil kembali kudamu dari akhirat dan meminta maaf pada Tuhan karena berubah pikiran”. Kejenakaan seperti ini, lazim ditemui pada cerita sufi, dan Dirgantara mengolahnya kembali menjadi puisi yang menantang pemaknaannya. Kekuatan gaib dan strategi pemerian makna bahasa juga dihadirkan Dirgantara pada kisahnya ini melalui “Orang berkerudung tanah kering itu, baru saja hilang di terima kasih”. Sementara itu, puisi “Pada Karat Besi” Dirgantara menulis tentang hubungan antara aku lirik dan guru yang akan ditinggalkan. Ia mengenang “tentang cangkir saat kami menjadi teh hijau, dan gunting saat kami rambut yang kepanjangan, atau musim gugur ketika kami musim panas yang kurang sabar mendingin”. Bagi si aku lirik, ia adalah pihak yang siap menerima pelajaran dari guru, karena ibarat buku, ia adalah “buku yang berabu”. Penyair muda Gorontalo, Jamil Massa, berangkat dari ladang tebu yang siap dipanen yang dimetaforiskan menjadi “tebu yang tumbuh di keningmu itu”. Rasa sayang si aku lirik pada sang Gadis adalah juga rasa cinta kepada ladang tebu, sekaligus rasa kesal terhadap industrialisasi yang menjadi ancaman keberlangsungan sang ladang. Seperti gadis yang harus dicintai, ladang tebu juga membutuhkan kasih sayang, tetapi “bilah-bilah tajam bergerigi, di moncong perontok mekanis” adalah ancaman bagi kemanusiaan, juga bagi kehidupan ladang. Sajak ini ditulis dengan nada romantis tetapi dibalut dengan kritik sosial yang lembut sekaligus tajam. Harmoni, cinta, penghidupan masyarakat, dan ancaman pembangunan dibingkai dengan baik dalam puisi Jamil “Ladang Tebu” tersebut. Puisi Jamil Massa yang lain kembali menyuguhkan fenomena kemarau pada puisi “Ayat-ayat Kemarau”. Sebuah puisi imajis yang mampu menggambar panasnya sang musim yang retakannya “merayapi tanah kering”. Terasa ke haribaan pembaca, panasnya cuaca yang “berujung pada tangkai randu di gayutan ranting”. Akibat musim seperti ini, “batang digoyang buahnya ikut terpanting”. Jamil menjalin larik-larik puisinya dengan kesadaran akan bunyi rangkap konsonan “ng” sehingga empati dan kritiknya tetap di dalam koridor bahasa yang estetis. Ada semacam rasa keputusasaan yang mendera si aku lirik melihat tidak bersahabatnya alam. Akan tetapi, Jamil secara tersirat mengatakan bahwa di balik “air selokan berwarna cokelat” dan “dingin berliur mengerkah senja yang berangsur” terdapat tangan jahat manusia. Di sini, penyair bergulat antara daya ungkap dan pesan yang disuling dalam bahasa yang peka pada bunyi yang liris. Ada benang merah yang dapat ditarik dari puisi-puisi yang ditulis di Makassar, yaitu ancaman kemarau, pembangunan yang tidak berpihak, dan pola kehidupan masyarakat lokal yang kian tergerus. Di sini, nilai kearifan lokal dan rayuan pragmatisme tengah bergelut dengan arus modernisme yang kuat menggelinding. dalah Abdul Muttalib, penyair muda Mandar, Sulawesi Barat, yang mengetengahkan pergulatan dan perjalanan hidup seorang sopir truk antarkota. Baginya “supir truk adalah musafir” sebuah sudut pandang yang tak biasa. Muttalib memotret hidup sang sopir yang kompleks, penuh godaan, dan cobaan. Godaan dan cobaan itu tidak hanya mucul di tengah perjalanannya, tetapi juga dengan “malam” yang penuh cumbu rayu. Dengan demikian, sopir, bukanlah semata pekerjaan untuk mendapatkan uang belaka, tetapi juga bagaimana menahan diri dari godaan dunia dan terutama merawat kesetiaan pada “lapang hati istri dan kenangan riang anak” di rumah. Dari segi sosiologis, sopir adalah pekerjaan yang banyak dilakoni oleh sebagian lelaki Mandar sebagai kota yang merupakan pusat dari-dan-ke Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Muttalib mampu menghidupkan ingatan kolektif masyarakat Mandar atas pekerjaan sebagai sopir yang melewati kota demi kota, terminal demi terminal, dan pelabuhan demi pelabuhan. Puisi ini berhasil mengkonkretkan sebuah truk yang melalu dengan alunan lagu “kutunggu jandamu” menghidupkan jalan-jalan pengembaraan. Frase “kutunggu jandamu” mewakili laku “jalang” para sopir, gairah perantauan, lambang kelelakian, sekaligus penawar untuk tetap setia dengan pasangan sesungguhnya di rumah. Frase umum ini adalah penanda harapan sang sopir bahwa meskipun ia singgah di kota-kota tak bernama, tetapi di rumah, istri adalah segalanya. Muttalib berhasil menggiring judul lagu Imam S. Arifin tersebut dari jurang klise ke pergumulan bahasa yang khas dan otentik. Sehingga dalam pandangan penyair, “kutunggu jandamu” tidak lagi bermakna ketidaksetiaan seorang lelaki atas istrinya karena menanti status janda dari seorang istri lelaki lain, tetapi justru sebaliknya, jika sang lelaki sopir “zikirnya aliri losmen melati tak harum” maka pasangan di rumahnya akan menjadi janda dengan sendirinya, yang ditunggu lelaki lain. Ya, dengan memanfaatkan kosakata-kosakata khas truk dan perjalanan, misalnya “kompasnya patuh akan rambu-rambu hidup, klakson truknya tetap raungkan doa, ingatkan jalan lurus tanpa kelokan”, Muttalib telah memperkaya pengucapan puisi. Di sini, ia menawarkan puisi yang reflektif, humoris, dan spritual sekaligus. Upaya pemadatan bahasa juga masih terasa di sajak lain Muttalib, “Dua Kantung Hitam Menggantung di Bawah Matanya”. Dua kantung hitam itu “menyimpan kisah gelisah malam” adalah sebuah upaya penyimbolan yang unik. Semakin hitam kantung itu, berarti semakin banyak lipatan kisah yang menggantung di dalamnya. Penyair memberi pesan bahwa kisah-kisah itu patut dipelihara sebagai hikmah di masa kini. Abed El Mubarak adalah penyair Mandar yang mencoba menyelusuri jejak kepenyairan sebelumnya. Dua puisinya ditujukan buat Husni Jamaluddin seorang penyair kenamaan Indonesia kelahiran Mandar dan Zawawi Imron, penyair Madura tetapi banyak menulis tentang Mandar dan menaruh perhatian kepada tanah kelahiran Baharuddin Lopa itu. Sebagai penyair, Abed tidak abai terhadap apa yang dicapai pendahulunya. Kepada Husni ia mengatakan “Aku ingin mengenangmu/Seperti seorang isteri nelayan/Yang saban senja menghambur ke pantai/Mencari bayangan lelakiku antara tepi laut dan garis langit/Adakah di buih kau titipkan juga sebuah rindu yang menggebu?” Abed, mengenang sang penyair yang diasosiasikan dengan seorang istri nelayan yang menunggu sang suami “antara tepi laut dan garis langit”. Abed sekaligus memanfaatkan “laut” sebagai metafora pencarian dan kesabaran, karena laut sendiri adalah dunia yang karib dan tak terpisahkan dengan Tanah Mandar. Laut adalah simbol kehidupan, kesabaran menanti suami, dan sebagai sumber penciptaan puisi itu sendiri. Penyair Ima Lawaru, seorang perempuan berdarah Wakatobi, dengan baik memotret sebuah ritual budaya di Tomia, karia’a. Ia memulai sajaknya dengan “pagiku lautan debu manusia” sebuah larik yang mengandaikan manusia sebagai lautan debu untuk penegasan betapa banyak, sekaligus betapa ritual. Dengan bahasa sederhana tetapi tanpa kehilangan sentuhan puitiknya, penyair mampu menceritakan kembali secara visual sebuah upacara sunatan massal itu. Aroma pagi tercium sampai ke pembaca melalui larik “wangi-wangi mewangi dalam aroma pesta karia’a”. Tidak bisa tidak, sajak ini telah menghidupkan suasana dengan kesegaran kata-kata. Ima Lawaru dengan sajak yang liris, dengan tenang, memungut kata-kata dan menatanya menjadi sajak yang menyentuh. Sajaknya yang lain, “Musim di Rambut Ibu”, adalah sebuah amsal yang kuat dan sekali lagi, menyentuh, mengenai usia seorang ibu. Larik “musim semi/adalah musim yang pertama singgah bercanda mesra di rambut ibu” tentunya digali dari pergulatan bahasa yang intens dan sabar. Pengandaiannya sebagai “tunas-tunas kehidupan mulai tumbuh di kepala ibu yang kurus” bukankah itu sebagai larik yang bertenaga, puitik, dan imajis? Pengucapan yang menarik adalah ketika penyair mengibaratkan Usia sebagai “kemarau mengaum/mengaum lebih panjang dari musim kemarin” dan Maut diumpamakan dengan “ibu memetik musim terakhir, musim terindah yang tak pernah kutahu apa namanya” adalah penciptaan metafor yang hidup dan mengejutkan. Di tangan Ima, dunia kepenyairan di Sulawesi Tenggara, menjanjikan. Puisi adalah pengalaman personal penyairnya. Sebuah pengalaman yang paling dalam dan berkesan dapat diungkap melalui bahasa yang liris. Hanz Al Gebra, penyair asal Manado menjadikan pengalaman intim, berikut segugus harapannya melalui puisi yang lembut. Perhatikan larik ini, “kugambar sketsa wajahmu dengan garis bening” segera saja merangsang imaji visual pembaca pada sebuah kanvas di “bidang berembun”. Menariknya, si aku lirik menggambar di atas kereta, sehingga “setiap detik latar belakangmu berganti, seiring keretaku yang makin melaju”. Di sinilah pertaruhan seorang penyair yang berjuang menawarkan kata-kata. Sang penyair mengatakan bahwa kereta itu “digerakkan mesin rindu”, sebuah ungkapan yang digali dari pencarian bahasa yang ketat. Hanz mengakhiri puisinya dengan sangat konkret dan mengagetkan, “aku meraba mata angin, mengendus kutub-kutub udara yang basah, mereka-reka, di mana engkau akan mewujud”. Dengan demikian, si aku lirik tidak semata menggambar dengan tangan lahir, tetapi juga dengan tangan batin. Sajak Haz yang berjudul “Labirin Senja” juga merupakan upaya penyair di dalam menyegarkan ungkapan cinta melalui metafor senja. Dengan pilihan bahasa “jika bisa kubakar langit, agar malam bisa tertunda” si aku lirik mengemukakan ihwal cintanya dengan kata-kata yang heroik. Penyair Manado, Jean Kalalo, hadir melalui puisi “Tambio” dengan bahasa yang lugas mengalir, berani, liar, dan mengejutkan. Tambio adalah sosok ganda dan hidup di tengah masyarakat Manado, juga Indonesia. Ia, si Tambio, yang “di tepi jalan, matanya meliuk-liuk, o, ya gayanya, Sob”. Jean fasih menjadikan tutur khas Manado menjadi bahasa puisinya, sehingga terasa benar ruh lokalitasnya. Tambio adalah juga yang “di tepi jalan, gesit mencari ayah dan air mata yang dikandungnya”. Tambio adalah anak kandung sejarah dan deru perkotaan. Tetapi Tambio adalah juga yang “di atas mimbar, merengkuh sepi dengan kata, lidahnya melambai nakal”. Di tangan kreatif Jean, pembaca disuguhi beragam tabiat dan nasib Tambio, yang adalah juga nasib kita semua. Jean memberi warna khas bahasanya seperti “sengatan bisa 24 karat” untuk simbol rayuan yang dilakukan Tambio di mimbar politik. Tambio adalah sebuah puisi kritik sosial yang mampu menjaga jarak dengan puisi kritik sosial sebelumnya yang dilahirkan penyair Indonesia. Melalui gaya bahasa tuturan Manado, Jean sangat berpeluang menawarkan gaya pengucapan yang segar bagi puisi kita. Ia mengingatkan pembaca bahwa “Tambio di dalam kantor, tusuk kerut menembus dada, dan selusin liang mayat, menjalar dari pantatnya”. Sebuah bahasa yang satir dan sarkas, tetapi tetap memikat. Jean juga memiliki bakat menyajak dengan cara mbeling, tetapi tidak terjebak pada main-main belaka. Puisi berikut lahir dengan nada kelakar tetapi serius, “ketika nabi-nabi terpasung, berbahagialah jiwa-jiwa yang memuliakan Tuhan dengan keringat lelah, karena lidah adalah senjata, bukan pangkal kemuliaan”. Gaya ironi dimanfaatkan Jean pada puisi tersebut. Begitu pula puisi lain yang tidak kalah nada humornya, “aku cinta damai tapi mereka tidak, aku rindu damai, namun mereka enggan, aku haus damai sedang mereka benci, lambat-lambat aku bahkan lupa damai pernah ada”. Puisi yang lugas, sederhana, tetapi kaya akan makna. Membaca puisi dari para penyair Sulawesi yang khusus ditampilkan untuk Jurnal Sastra edisi ini adalah menghikmati bentangan cakrawala bahasa yang memukau. Para penyair dengan cara yang meyakinkan, memotret kehidupan sosial masyarakat Sulawesi, lengkap dengan kompleksitas permasalahannya, baik ketika berhadapan dengan musim pancaroba, terlebih lagi ketika dihadapkan pada pembangunanisme yang mengabaikan nilai lokal. Mitos mendapat pembacaan ulang, seraya memberi makna baru, meskipun terasa upaya bergelut dengan pukauan mitos, tradisi, dan masa silam. Lanskap Sulawesi yang berlaut, berkarang, agraris, yang ditopang oleh khazanah budaya yang bergelimang, menjadi oase penciptaan bagi penyair. Para penyair berjuang untuk menawarkan bahasa yang dipetik dari lokalitas dan nilai masyarakat pendukungnya. Dengan demikian, selain sebagai latar fisik, para penyair masa depan Sulawesi ini dapat mengungkap sisi batin dan spritualitas masyarakat Sulawesi dengan sudut pandang dan pencapaian masing-masing. Kiranya, masa depan puisi di Sulawesi senantiasa cerah, dengan kehadiran para penyair generasi terbaru ini, sebagai pelanjut estafetnya. Menghimpun dua belas penyair dari daerah provinsi yang memiliki dunia kekusastraan yang bergairah dan kompleks, dapat terealisasi berkat dukungan dari kawan-kawan penyair yang bermukim di wilayah tersebut. Oleh karena itu, terima kasih jua saya haturkan kepada sahabat/penyair M. Syariat Tajuddin, M. Aan Mansyur, Delasari Pera, dan Arther Panther Oli. Selain itu, selamat pula kepada dua belas penyair Sulawesi yang puisi-puisinya hadir di sini. Lapangan kesusastraan Sulawesi dan tanah air, menanti Anda. Wassalam. Kendari, 30 September 2013 Catatan Esai Syaifuddin Gani, “Sulawesi, Lokalitas, dan Puisi” adalah tulisan pengantar edisi “Sulawesi dan Roh Ideologi Puisi Nusantara Mutakhir” dalam Jurnal Sastra The Indonesian Literary Quarterly lalu kemudian dimuat di Sastra Digital edisi April ini juga dimuat di tanggal 1 Juli 2015
Puisi Tentang Keindahan AlamKeindahan AlamOmbak PantaiAlamkuPemandangan Pagi HariSang RembulanPelangiAir Terjun Nan IndahHamparan SawahKeindahan PantaiHutan HijauContoh Puisi Tentang AlamHutan Yang RapuhKicauan BurungAliran Air SungaiAlam Yang DamaiTakjubTepi PantaiNikmatnya CiptaanNyaIndahnya DesakuPantai Penyejuk HatiSenja Yang IndahPuisi Tentang Alam PegununganGunung Yang MenjulangPemandangan Gunung Pagi HariKaki GunungSejuknya Udara PegununganAlam PegununganGunung Nan Jauh DisanaKeindahan PegununganPesona PegununganLetusan GunungSungai Di Kaki GunungPuisi Tentang Alam IndonesiaIndahnya NusantaraHembusan AnginKeindahan DesakuIndonesia LestariIndonesiaku Nan IndahGaris KhatulistiwaSyukur Atas IndonesiaTanah KelahiranIndahnya SawahTanah AirkuPuisi Pendek Tentang AlamSenjaKeindahan TamanDesakuSawahku Nan HijauPantaiLingkungan SekitarkuSekolahku Yang HijauHujanKebunkuSejuknya SungaiContoh puisi tentang keindahan alam – Alam Indonesia mempunyai pesona yang sangat indah, itu sudah terkenal sampai ke luar negeri. Karena daya tarik itu lah banyak wisatawan asing yang ingin berlibur di Indonesia untuk menikmati keindahan alam yang ada, baik itu pegunungan, hutan, pantai, atau ini adalah kumpulan puisi tentang alam Indonesia yang memiliki keindahan luar AlamTerdengar suara angin berhembus Menyentuh telinga dengan lembutnya Aku terpaku Melihat betapa indahnya alam iniSunyi dan tenang yang ku rasa Dengan damai Kupejamkan mataku Menikmati suasana yang sedang kurasakanSungguh Aku sangat bersyukur atas alam ini Terimakasih sang pencipta Yang telah memberikanku alam seindah iniOmbak PantaiDi pantai ini Kulihat banyak orang sedang bermain disini Mereka menunggu petang datang Untuk melihat matahari masuk ke rumahnyaAku termenung di pinggiran Ku pandangi pantai itu dengan dalam Kulihat ombak yang menari-nari Seakan meminta untuk diperhatikanKini petang mulai tiba Matahari telah bersiap pulang Semuanya sempurna Pemandangan ini sukses memanjakan matakuAlamkuMalam yang sunyi Kulangkahkan kakiku perlahan Menyusuri jalanan persawahan Dengan ditemani dinginnya malamKugenggam senter ini dengan erat Sebagai penerang jalanku Kudengar suara jangkrik yang nyaring Namun tetap seiramaDi malam ini Aku memang berencana Untuk melihat pemandangan desaku Pemandangan dengan hamparan sawahAku baru menyadari satu hal Pemandangan ini sangatlah indah Didukung oleh suasana malam yang sejuk Alamku memang luar biasaPemandangan Pagi HariPagi hari telah tiba Suara ayam berkokok mulai terdengar Perlahan aku bangkit dari tidurku Kubuka kain yang menutup jendela kamarku ituKamarku berada tepat menghadap kearah taman Itulah alasan mengapa pagi hari adalah waktu terbaik Pemandangan di depanku ini Bisa membuatku bersemangatBanyak pohon-pohon hijau Yang tidak jarang terdengar kicauan burung Banyak bunga-bunga bermekaran Yang menambah semangatku untuk beraktivitas Ah! Betapa indahnya pagi iniSang RembulanMalam yang sunyi ini Ku duduk di depan teras Ku rasakan sejuknya malam Ku pandangi langit gelapBanyak titik titik kecil di langit sana Dan sebuah bulatan indah yang menerangi langit gelap Kupandangi bulatan yang disebut rembulan itu Betapa indahnya pemandangan di langit tersebutAku hampir saja terhipnotis oleh kecantikannya Semakin ku merenung Rasa nyaman semakin merasuk ke jiwaku Menikmati pemandangan malam yang indah Di langit ituPelangiSehabis hujan adalah waktu favoritku Sehabis hujan aku akan pergi keluar Pergi ke taman belakang rumahku Hanya untuk melihat sesuatu yang sangat indahKulihat lengkungan yang sangat indah di seberang sana Lengkungan dengan beragam warna cantik Yang sukses memanjakan kedua bola mata ini Pelangi namanya Sebuah keindahan alam yang paling aku sukaAir Terjun Nan IndahKami berkumpul bersama disini Mempersiapkan diri setiap kami Untuk berangkat Menuju ke suatu tempatKami sangat tidak sabar Melihat keindahan alam yang akan kami tuju Yaitu sebuah air terjun Air terjun yang menyejukkanKami daki jalanan ini dengan penuh semangat Lelah mulai membaluti kami Tapi kami tetap semangat Demi bertemu dengan keindahan alam ituKami melihatnya Air terjun itu di depan mata kami Betapa indah dan sejuknya Alamku nan cantikHamparan SawahSetiap pagi di desa Aku selalu keluar rumah Untuk memanjakan mataku di pagi hari Dengan sebuah hamparan sawah yang luasBanyak terdengar kicauan burung Tanaman yang melambai-lambai Serta rumput hijau Yang menambah kesejukan desa di pagi hariSetiap kali aku melihat ini Aku selalu mengucap syukur Atas kebesaran Tuhan Yang telah menciptakan alam seindah iniKeindahan PantaiAku mengunjungi sebuah tempat Tempat yang menurutku paling nyaman Tempat yang bisa dijadikan wadah Untuk menenangkan hati Dan menikmati indahnya alamDitempat ini ombak bergemuruh bisa terlihat Pohon yang melambai dan batuan besar Serta pasir putih Menambah keindahan pantai iniSore hari Adalah waktu yang paling ditunggu Waktu yang akan menambah keindahan alam Yaitu pertunjukan dimana matahari akan kembali ke tempatnya Dan disinilah aku Menunggu sunset ituHutan HijauHutan Itu adalah tempat favoritku Banyak pohon rindang disana Yang bisa membuat diri ini takjubBanyak burung-burung yang berkicau Yang menambah keindahan hutan Hutan merupakan sebuah kekayaan Yang didalamnya terdapat banyak kehidupanContoh Puisi Tentang AlamHutan Yang RapuhBanyak ranting yang patah Daun-daun yang mulai gugur Meninggalkan rumahnya Batang pohon tumbang semuanyaBanyak hewan yang meninggalkan rumahnya Semuanya telah luluh lantak Hutan telah rapuh, alamku telah dirusak Oleh penebang yang tak bertanggung jawabKicauan BurungKicauan burung pagi hari membangunkanku Mereka bernyanyi dengan irama yang indah Membuat siapa saja yang mendengarnya Akan merasa kembali bersemangatBanyak burung terbang bebas Terbang dari dahan satu ke dahan lainnya Hinggap di antara pepohonan Menambah keindahan di pagi hariAliran Air SungaiHati ini serasa sejuk Sejuk saat mendengar suara indah Yang berasal dari aliran air sungai yang deras Ditemani oleh bebatuan kecilIni semua merupakan titipan Tuhan Keindahan ini sudah dititipkan untuk kita Agar selalu kita jaga Sehingga kita bisa menikmati keindahannyaAlam Yang DamaiKulihat pepohonan yang menari Menyambut indahnya pagi Kudengar burung berkicau Memuji hangatnya pagiBetapa damainya alam ini Ingin terus rasanya merasakan pagi Pagi yang hangat nan indah seperti ini Dimana aku bisa menikmatinyaTakjubMenakjubkan Hanya kata itu yang bisa kuucapkan Saat melihat alam ini Ciptaan Tuhan Yang EsaSawah nan hijau yang membentang luas Burung beterbangan Udara yang sejuk menusuk hati Membuatku takjub akan keindahan semua iniTepi PantaiDisini aku berdiri Di tepi pantai Di hamparan pasir putih Menikmati indahnya pantai iniOmbak perlahan mulai menghampiri Membelai kedua telapak kakiku Dingin pun mulai terasa Menambah kesejukan di tubuh iniNikmatnya CiptaanNyaTuhan Terimakasih atas semua ini Terimakasih atas keindahan yang telah kau ciptakan Keindahan alam yang tiada duanyaSawah, pepohonan Hewan-hewan kecil ini Semua yang telah kau ciptakan Terimakasih atas semua keindahan iniIndahnya DesakuSetiap kali berkunjung ke desa Semuanya terasa nyaman Pemandangan di desa Sukses membuat diri ini takjubSetiap kali menatap sawah Akan terlihat banyak burung kecil beterbangan Petani yang sedang bekerja Yang menambah kedamaian desaPantai Penyejuk HatiOmbak yang bergemuruh terdengar Disinilah aku Di pantai yang indah ini Menenangkan hati yang sedang resahKeindahan alam di pantai Mampu mengubah suasana hati Jauh menjadi lebih baik Kini hati tidak lagi resahSenja Yang IndahLangit mulai berubah warna Biru telah menjadi merah Angin mulai berhembus Menandakan senja mulai datangSenyum terpancar dari bibirku Kulihat awan dengan takjub dan kagum Awan yang amat menawan Menambah satu lagi keindahan alam yang tiada taraPuisi Tentang Alam PegununganGunung Yang MenjulangTerlihat gunung yang tampak menjulang tinggi Tinggi hingga hampir menembus awan Ia menjulang dengan gagahnya Menampakkan ke kokohan dirinyaPemandangan yang sangat menawan Ditambah dengan kabut asap Yang menyelimuti ujung gunung Menambah keindahan gunung tersebutPemandangan Gunung Pagi HariSebuah pemandangan yang indah Pagi hari di pegunungan Disambut oleh udara yang dingin Menusuk hingga ke tubuhSang surya yang mulai menampakkan dirinya perlahan Menampilkan cahaya Yang membuat dingin sedikit tergantikan Oleh kehangatan dari mentariKicauan burung mulai terdengar Ditemani oleh pohon disekitar gunung yang melambai Menyambut pagi yang datang Membuat siapa saja terkagumKaki GunungTerlihat hamparan sawah yang luas Yang berada di sekitaran kaki gunung Sawah yang menghijau Menambah keindahan gunungAngin berhembus tiada henti Menambah kesejukan di pagi hari Burung-burung kecil beterbangan Menggoda para petani dan orang yang lewatSejuknya Udara PegununganDisinilah aku berdiri Di puncak gunung yang berhasil ku daki Kupandang dari ketinggian Hamparan bumi yang sangat indahKuhirup udara di pegunungan Udara yang sangat sejuk dan segar Udara yang belum tercemar oleh polusi Yang sangat bersih dan segarInilah sebuah alasan Alasan diri ini sangat menyukai gunung Bukan hanya karena keindahannya Bahkan udaranya pun penuh dengan kesejukanAlam PegununganPegunungan Merupakan alam yang memiliki sejuta keindahan Tubuhnya yang menjulang tinggi Sangat gagah bahkan kokohLelah memang untuk mendakinya Tetapi semua akan terbayarkan Terbayarkan saat kita sudah berhasil tiba di puncak Oleh keindahan alamnya yang sangat menawanGunung Nan Jauh DisanaDari kejauhan Ku pandangi gunung indah itu Gunung yang diselimuti oleh kabut asap Dan dikelilingi oleh banyak pepohonan hijauIngin rasanya berada di puncak gunung Menikmati keindahan bumi darisana Merasakan seluruh keindahan tiada tanding Membiarkan diri ini bersatu dengan alamPemandangan yang sangat indah Yang mampu menghilangkan penat Dan bisa mengubahnya Menjadi sebuah kebahagiaanKeindahan PegununganKeindahan pegunungan sukses membuatku terpesona Saat berada disana Yang kurasakan hanyalah ketenangan Menjauhi kebisingan dari hiruk pikuk perkotaanBersama dengan alam kutemukan kedamaian Pegunungan mampu membuat jiwa menjadi damai Pendakian yang melelahkan pun tidak akan terasa Setelah tiba di puncak Dan menikmati pemandangan dari ketinggianPesona PegununganPegunungan nan hijau Betapa indahnya dirimu Ditemani oleh pohon-pohon Menambah keindahan dirimuBentukmu yang menjulang tinggi Seakan menusuk awan Membuat siapa saja takjub akan pesonamu Pesona alam yang sangat indahLetusan GunungSuara gemuruh mengusik kedamaian sekitar Bukan hanya suara tetapi getaran juga mulai bermunculan Langit mulai berubah warna Menjadi merah kekuningan dan membuat suasana gelap gulitaPerlahan gunung itu mulai memuntahkan Memuntahkan seluruh isi perutnya Membuat sekitar wilayah tersebut hancur Hancur memporak porandakan seluruh wargaSungai Di Kaki GunungBetapa indahnya pemandangan ini Gunung hijau yang tinggi menjulang Pepohonan yang melambai Dan sungai yang mengalir di kaki gunungAir sungai yang mengalir Mampu membuat hati menjadi damai Air sungai yang dingin Mampu membuat tubuh ini sejuk saat menyentuhnyaPuisi Tentang Alam IndonesiaIndahnya NusantaraNusantara tercinta Berisi keindahan alam yanag mempesona Alam yang terbentang luas Menambah keelokan nusantaraHamparan sawah yang luas Banyaknya lautan dalam yang indah Gunung hijau yang menjulang tinggi Semua itu ada di Indonesia iniHembusan AnginHembusan angin sepoi-sepoi Menghampiri seluruh sawah di pedesaan Menyentuh hijaunya rerumputan Yang membuat mereka melambai-lambaiHembusan angin Menambah kesejukan desa Membuat jiwa menjadi damai Karena keindahan alam yang menakjubkanKeindahan DesakuDesaku tercinta Hijau mendominasi tempat ini Banyak pepohonan dan rerumputan Yang menambah kesejukan hawa di desaInilah desaku Penduduk yang tak terbilang banyak Rumah yang tak terbilang besar Tetapi masih minim polusiDesaku di nusantara ini Merupakan karya dari sang pencipta Yang akan selalu kujaga dan hargai SelamanyaIndonesia LestariSudah bertahun-tahun Indonesia ini Beribu zaman telah terlewati Dari dulu hingga sekarang Indonesia tetap samaIndonesia masih lestari Keindahannya tak tersaingi Sawah, hutan dan lautan Masih tetap terjaga hingga saat ini Betapa indahnya IndonesiakuIndonesiaku Nan IndahTerdengar kicauan burung yang bersahutan Beterbangan di sekitaran awan Terbang dari satu dahan ke dahan lainnya Inilah IndonesiakuIndonesiaku begitu indah Terdapat hamparan sawah yang hijau dan luas Gunung-gunung yang menjulang tinggi Serta hutan yang lebat Menambah keindahan Indonesia yang tak tertandingiGaris KhatulistiwaIndonesiaku Yang teletak di garis khatulistiwa Sungguh luar biasa pemandanganmu Anugrah terbaik dari sang penciptaIndonesiaku Kau adalah harta kami yang berharga Akan kami jaga selalu Dan tidak akan kami biarkan kau dirusakSyukur Atas IndonesiaAku bersyukur kepada Engkau Engkau sang pencipta Karena telah memberikan kami keindahan Keindahan di Nusantara iniKau telah menciptakan gunung yang menjulang tinggi Lautan yang luas nan indah Sawah yang hijau terbentang Aku sangat bersyukur atas nikmat iniTanah KelahiranIndonesia Itulah tanah kelahiranku Tanah kelahiran yang ku banggakan Memiliki sejuta keindahan alamIngin rasanya aku terbang bebas Sebebas burung di udara Untuk menikmati seluruh keindahan ini Keindahan alam IndonesiaIndahnya SawahSawah yang terbentang luas Dibawah langit yang membiru Padi yang melambai Seakan mengajak kita untuk menari bersamaSemuanya sungguh indah Keelokan sawah Mampu memanjakan mata Membuat siapa saja yang memandang Betah untuk berlama-lama disanaTanah AirkuTanah Airku Tempat kelahiran yang ku banggakan Hamparan sawah yang terbentang luas Gunung yang menjulang tinggiTanah Airku Dihuni oleh rakyat yang makmur dan aman Menjaga dan melindungi setiap keindahan alam yang ada Itulah Indonesiaku tercintaPuisi Pendek Tentang AlamSenjaSenja Kau terlalu indah saat dipandang Merahmu mampu menyejukkan hati Langit biru disekitarmu Bagaikan dayang-dayang yang selalu menemanimuKau datang hanya sesaat Tapi kedatanganmu Bisa membuat banyak orang bahagia Itu semua karena keindahanKeindahan TamanRasanya sangatlah nyaman Duduk sendiri di taman Menikmati pemandangan disekitar Ditemani sejuknya suasana pagiDi taman Banyak anak-anak yang bermain Banyak juga tanaman tanaman cantik Yang mampu membuat kepenatan terangkatDesakuDesaku yang permai Desa yang sangat berbeda dengan perkotaan Suasana sejuk di desa Membuat diri ini betah untuk tetap tinggalTak banyak gedung menjulang tinggi disini Tapi hamparan sawah nan hijau Mampu membuat hati damai Inilah desaku dengan segala keindahannyaSawahku Nan HijauPagi ini Matahari terbit dengan hangatnya Burung-burung terus berkicau Membangunkan setiap insan yang masih tertidurPemandangan di pagi hari Sukses membuat setiap orang terkagum Kagum karena hamparan sawah nan hijau Pohon-pohon yang melambai-lambai Seakan menyapa di pagi hariPantaiAngin berhembus menyapa telinga Pasir putih menyambut kedatanganku Ombak berdatangan menghampiri pasir Pohon-pohon saling menariPantai Pemandangan di pantai ini Begitu indah dan menakjubkan Pantai ini mampu membuat hati merasa nyaman Mampu membuat jiwa merasa tenangLingkungan SekitarkuSore ini Aku duduk di bangku halamanku Ku tatap jalan didepanku Ku tatap segala yang ada disekitar rumahkuPohon-pohon rindang yang asri Masih menghiasi sekitar rumahku Banyak tanaman cantik Yang selalu menyapa para pejalan kakiMelihat semua itu Perasaan seketika menjadi tenang dan nyaman Karena ternyata lingkunganku Masih terjaga keindahannyaSekolahku Yang HijauSekolahku Salah satu tempat yang kusukai Ya! Aku senang saat berada di sekolah Sekolahku yang indah karena kehijauannyaBanyak pohon rindang disana Banyak tumbuhan yang ditanam Dirawat oleh seluruh warga sekolah Sehingga tanaman tersebut tumbuh dengan baik Menambah keasrian sekolahkuHujanPagi ini hujan turun Hujan turun begitu derasnya Ia menyirami tanaman yang selama ini gersang Rerumputan sekitar kembali hijauBau tanah basah seketika muncul Aroma pagi terus terasa hingga siang Suasana hati pun ikut sejuk Mengamati hujan yang turun ituKebunkuKuhampiri bagian belakang rumahku Kudatangi kebun yang berada disana Kududuk di bangku yang ada disana Duduk diam dan termenungKulihat tumbuhan di kebunku Semua tumbuh dengan baik Tanaman cantik turut menghiasi kebunku Dengan warna yang beragam Menambah keindahan kebunkuSejuknya SungaiKutelusuri jalan itu Berhenti disebuah jembatan Jembatan yang dibawahnya terdapat sebuah sungai Sungai kecil nan bersihAir yang masih bersih dan sejuk Mengalir dengan derasnya Dihiasi dengan batu-batuan kecil Yang menambah keelokan sungaiBaca jugaKumpulan puisi cintaPuisi tentang coronaPuisi tentang ibuItu dia kumpulan contoh puisi tentang keindahan alam, puisi-puisi di atas bisa kamu jadikan referensi untuk tugas membuat puisi di sekolah. Terima kasih telah membaca di Sudut Pintar, semoga bermanfaat.
puisi makassar tentang keindahan